Foto Foto oleh Dragos Gontariu | Unsplash

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Ayu 'Ulya - Rabu, 29 Januari 2020

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Tahun 2020 merupakan langkah awal masyarakat Indonesia menyambut bonus demografi. Hal itu tercerminkan dari jumlah penduduk Indonesia dengan usia produktif, di rentang 15-64 tahun, lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif. Bonus demografi yang diperkirakan berlangsung hingga 2035 ini sejatinya mirip pedang bermata dua. Jika rentang waktu ini dimanfaatkan dengan bijak, maka rakyat Indonesia akan mendapatkan manfaat yang besar. Sehingga, kelak kita mampu menghasilkan ragam karya dan berkontribusi nyata bagi bangsa. Namun sebaliknya, jika kesempatan ini tidak dipergunakan dengan baik, bisa jadi potensi pemuda untuk berkembang menjadi sia-sia, bahkan menjurus celaka. 

Dilansirkan dari Tempo, Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan (Dirjen Binalattas Kemnaker) RI, Bambang Satrio Lelono, memaparkan bahwa bonus demografi akan menjadi berkah jika angkatan kerja produktif yang mendominasi jumlah pendudukan dapat terserap pada pasar kerja secara baik. 

Menariknya, pekerjaan masa depan tidak hanya menuntut kita bersaing antar sesama manusia saja, namun juga dengan mesin. Sehingga, keterampilan manusia yang dibutuhkan akan bergeser dari keterampilan kognitif ke keterampilan sosial. 

Pemaparan di atas secara tidak langsung menjadikan kita mempertanyakan dua hal penting. Pertama, “Apakah keterampilan masa depan sudah diajarkan sejak dini di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia?”. Kedua, “Sejauh mana persiapan pendidik dalam membimbing peserta didiknya menyambut bonus demografi tersebut di setiap provinsi?”.

Sejujurnya, sependek pengalaman saya yang telah bergelut di dunia pendidikan di Provinsi Aceh lebih kurang satu dekade, pendidikan berbasis keterampilan masa depan di Aceh sendiri masih jauh panggang dari api. Pasalnya, gaya mendidik masih terkesan “jadul” dan tidak sesuai kebutuhan zaman para pelajar di lembaga-lembaga pendidikan hingga kini.

Makna jadul di sini bukanlah semata-mata berkaitan dengan peralatan mengajar canggih berbasis teknologi saja, namun lebih kepada ketersediaan dan kejelasan konteks maupun konten pembelajaran serta tujuan pendidikan yang mau dibawa ke mana. Dengan kata lain, diakui atau tidak, masih banyak pendidik yang belum siap melepaskan ideologi pendidikan buram dan metode-metode klasik seperti Teacher Center Learning (TCL), solusi masalah mutlak (one absolute solution), ceramah, hafalan, dan Catat Buku Sampai Abis (CBSA). 

Terlepas dari itu semua, agar tidak berlarut-larut dalam kemelut gaya pendidikan masa lalu, berikut saya sajikan rangkuman 15 keterampilan utama yang wajib dimiliki para pelajar Indonesia, termasuk Aceh, dalam menyambut bonus demografi dan tantangan persaingan global ke depan.

1. Pemikiran Kreatif dan Inovatif

Meskipun terdapat laporan dari World Economic Forum pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa otomatisasi robot mampu menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada menghilangkannya, namun kita sebaiknya tetap memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki manusia dalam menghadapi kompetisi global. Pola pikir kreatif dan inovatif sebagai salah satu solusi harus dipertahankan dan terus diasah. 

Pola pikir kreatif dapat diartikan sebagai keinginan untuk mengetahui beragam kemungkinan baru, memikirkan ide-ide unik, dan mengaktifkan imajinasi serta rasa penasaran. Sedangkan pola pikir inovatif adalah merancang solusi baru dan efektif yang dapat diimplementasikan dalam tindakan mutakhir. 

Dengan demikian, asupan informasi tepat yang membangkitkan rasa penasaran para pelajar untuk bertanya bisa menjadi langkah awal untuk memupuk kedua pola pikir tersebut di sekolah dan kampus. Momentum “Aha” yang diperoleh peserta didik selama proses belajar dapat dijadikan sebagai salah satu indikator bagi keberhasilan pembelajaran.

Kepala Inovasi Teknologi Swiss International School Dubai, Amir Yazdanpanah bersepakat terhadap pentingnya mempertahankan daya kreativitas alami dan kemampuan berpikir di luar kebiasaan (think outside the box) manusia. Dalam wawancaranya bersama Gulf News, dia memaparkan.

“Pekerjaan di masa depan akan membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan untuk berpikir kreatif dan tahu cara menjalankan ide, proyek, produk dan layanan secara efektif. Menjadi terampil dalam STEM (science, technology, engineering and mathematics) itu penting, namun saya berpendapat bahwa keterampilan melalui kreativitas, kolaborasi dan inovasi menjadi lebih penting. AI (kecerdasan buatan) dan robotika dapat menggantikan banyak pekerjaan, tetapi kreativitas dan inovasi akan sangat sulit untuk diotomatisasi dan diganti dengan mesin. " 

2. Kecerdasan Emosional dan Sosial

Untuk segala hal yang dapat digantikan oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan, kecerdasan emosional dan sosial tetaplah menjadi kemampuan unik yang hanya dimiliki manusia. Maka, terapkanlah pendidikan empati sejak dini. 

Kemampuan manusia untuk mengenali, mengendalikan dan mengekspresikan emosi mereka sendiri serta menyadari emosi orang lain merupakan bentuk dari kecerdasan emosional. Ukuran dari kecerdasan emosional yang baik tercermin dari sikap empati, integritas, dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Sebuah mesin tidak dapat dengan mudah menggantikan kemampuan manusia untuk terhubung dengan manusia lainnya. Sehingga, mereka yang tidak memiliki kecerdasan ini tidak akan dibutuhkan.  

Selain itu, meniti karir di masa depan kemungkinan besar akan menuntut beragam kerja sama. Sehingga memiliki empati, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan berkomunikasi akan sangat dibutuhkan. 

3. Keterampilan Komunikasi Interpersonal

Kemampuan untuk mengomunikasikan ide dengan jelas kepada orang lain yang memiliki perspektif berbeda dari kita merupakan sebentuk pendorong kesuksesan terkuat di era modern. Para pelajar yang meluangkan waktu membangun komunikasi bersama guru dan teman-temannya akan memiliki kematangan keterampilan berkomunikasi saat memasuki dunia kerja.

Komunikasi terjadi melalui interaksi dua arah. Komunikasi berarti memiliki kemampuan mengutarakan pendapat sekaligus memiliki keterampilan mendengar yang tajam. Kemampuan mendengarkan menjadi faktor pendukung kuat dalam menjalin ikatan komunikasi yang baik dengan orang lain. Apalagi mengingat kemampuan bertukar informasi antar manusia menjadi keterampilan penting di era revolusi industri 4.0. Orang-orang dituntut untuk mengasah kemampuan mereka berkomunikasi secara efektif. Sehingga, mereka dapat menyampaikan informasi yang sesuai dengan menggunakan nada suara dan bahasa tubuh yang tepat.

Seorang pengusaha sekaligus miliarder, Richard Branson, mengatakan, "Komunikasi adalah keterampilan paling penting yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Keterampilan itu dapat dipelajari dan membuka banyak peluang." 

4. Pemikiran Analitis (Kritis)

Setiap kita pastinya pernah merasa penasaran terhadap materi suatu pembelajaran namun akhirnya urung bertanya hanya karena takut terlihat bodoh, dipermalukan, dianggap cari perhatian, atau lebih parah, khawatir sang guru marah. Mau tak mau, kita harus mengakui bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya ramah terhadap rasa penasaran, terlebih kesalahan. 

Kerap para pelajar disibukkan dengan ragam soalan untuk dipecahkan. Namun sayangnya, sangat jarang para pendidik mengajarkan mereka cara bertanya yang tepat. Pertanyaan yang bagus merupakan fondasi dasar dari berpikir kritis. Sebelum memecahkan suatu masalah, kita harus terlebih dahulu mampu untuk menganalisa dan mempertanyakan penyebab masalah tersebut muncul. Oleh karena itu, berpikir kritis dan memecahkan masalah saling bersinergi.

Seperti nasihat dari Oprah Winfrey, “Tanyakan pertanyaan yang tepat, maka jawaban akan muncul dengan sendirinya.”      

Lagi pula keterampilan berpikir kritis mampu membangun fondasi inovasi. Kita harus memiliki kemampuan untuk mempertanyakan status quo dan mengkritiknya, sebelum berinovasi dan merumuskan alternatif. Seseorang dengan keterampilan berpikir kritis dapat menyarankan solusi dan ide inovatif, memecahkan masalah kompleks menggunakan analisa logika dan mengevaluasi argumen. Kemampuan ini akan membantu para pelajar menghadapi tantangan global di masa depan.

5. Manajemen Waktu

Menunda-nunda merupakan salah satu masalah yang dialami hampir semua orang, termasuk para pelajar. Rebahan dan scrolling linimasa sosial media merupakan segelintir contoh kegiatan yang mampu meraup hampir seluruh waktu efektif kita. Sebenarnya tidak masalah menghabiskan sebagian waktu untuk bersantai dan bersenang-senang. Namun, tentu tidak sepanjang waktu hingga tugas dan kewajiban lainnya terlantarkan, bukan?

Manajemen waktu merupakan jenis keterampilan esensial yang harus dipahami sejak dini. Peserta didik harus tahu bagaimana cara menyeimbangkan waktu untuk belajar di kelas, berpartisipasi dalam organisasi, mengikuti kegiatan sosial dan perlombaan, juga meluangkan waktu bersantai dengan keluarga, teman, maupun untuk diri sendiri. Manajemen waktu yang baik dipercaya dapat menjadi penunjang jangka panjang kesuksesan karir seseorang di masa depan.

6. Keterampilan Kolaborasi

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar pelajar, di kampus maupun sekolah, membenci tugas kelompok. Hal ini disebabkan karena kebanyakan pekerjaan kelompok nyaris dikerjakan hanya oleh segelintir anggota saja, selebihnya hanya menitipkan nama. Tentu kebijakan guru dalam menetapkan tugas kelompok, agar menjadi wahana kerja kreatif dan menyenangkan untuk dikerjakan bersama, harus diulang kaji kembali. 

Bagi pelajar yang hanya ingin “melakukan semuanya sendiri” sebaiknya melatih diri sejak dini untuk terlibat dalam pekerjaan tim. Setiap orang sebaiknya memupuk pengalaman berkolaborasi dengan banyak orang yang memiliki perspektif dan ide berbeda.  

Menurut laporan New Horizons terkait pendidikan, kita harus melihat peningkatan fokus pada kolaborasi online secara global, di mana "alat digital digunakan untuk mendukung interaksi di sekitar tujuan kurikuler dan mempromosikan pemahaman antar budaya."

Apalagi kelak ketika memasuki dunia kerja, kolaborasi dengan rekan kerja hampir tak dapat dihindari. Mengembangkan prilaku baik terhadap orang lain menjadi nilai tambah dalam membangun karir para pelajar nantinya. 

7. Fleksibilitas Kognitif

Menghadapi tantangan di era global, setiap pelajar seharusnya dipersenjatai dengan pemikiran yang fleksibel. Keterampilan berpikir yang mampu untuk terus belajar, berkembang, dan bertumbuh seiring waktu, sehingga menghasilkan kecerdasan dan pengetahuan baru. Untuk mengalahkan robot, manusia harus secara aktif belajar dan melatih pikiran untuk memahami kondisi kompleksitas dan ambiguitas kehidupan. 

Kemudahan dari kehadiran era teknologi digital secara tidak langsung ikut menyumbang sejumlah tantangan yang cukup besar. Kelak manusia akan semakin dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan secara cepat. Sekaligus memiliki kemampuan untuk mengubah dan mengonsep berbagai ide kompleks sekaligus.

8. Kemampuan Pengambilan Keputusan

Kemampuan untuk mengambil keputusan ke depan dalam ranah kerja akan semakin kompleks. Dikarenakan mesin dan robot mampu menjangkau ranah kerja fisik yang lebih luas dan nyaris tanpa batas waktu kinerja. Adapun data digital mampu memroses informasi dan memberikan wawasan lebih komplet dari pada manusia kebanyakan, contohnya saja mesin pencari google.

Hal ini juga akan dirasakan secara pasti di ranah pendidikan. Di era modernisasi, guru bukanlah lagi sumber ilmu dan informasi tunggal. Para pelajar memiliki akses luas untuk menyerap informasi dan ilmu apa saja, bahkan tanpa batas, secara luring maupun daring. Banjir informasi dan tingginya distraksi dalam mengakses ilmu secara daring menjadikan para pelajar akan kesulitan melatih diri untuk fokus. Oleh karenanya, para pendidik sangat dianjurkan untuk mulai melatih fokus para pelajar dengan cara sederhana dan kontinu. Misalnya dengan membimbing mereka untuk bijak menyeleksi informasi penting, dan memutuskan kapan dan bagaimana informasi tersebut dianggap layak atau tidak.   

9. Pembelajaran Kegagalan

Mungkin hal ini pernah dirasakan oleh hampir seluruh pengajar di Indonesia. Ketika di dalam kelas pascaajar dan menanyakan kepada para pelajar, “Sudah paham?”, lalu dijawab dengan diam. Kemudian ditanyakan lagi, “Ada pertanyaan?”, peserta didiknya diam lagi. Namun ketika disebutkan, “Baiklah, sepertinya sudah pada mengerti. Minggu depan kita ulangan ya”, lantas seketika kelas riuh, “Yah… jangan, Bu”.

Saat menyadari pola mengindari bertanya dan ujian ini di awal-awal tahun pengajaran, saya langsung melakukan mini riset dengan cara mengobservasi dan melakukan diskusi dengan para siswa lintas umur dan jenjang pendidikan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya para pelajar tidak takut bertanya atau pun ujian. Hal yang mereka takuti adalah menjadi salah kemudian gagal. 

Lantas kemudian, saya melakukan diskusi lebih lanjut terkait penyebab ketakutan dari rasa gagal tersebut. Ternyata saya menemukan bahwa para peserta didik pada dasarnya tidak benar-benar takut gagal, namun hal yang lebih mereka khawatirkan adalah efek dari kegagalan itu. Misalnya karena gagal mereka jadi ditertawakan, dipermalukan, dimarahi, dihina, dan beragam perlakuan negatif lainnya. Sejak saat itu saya paham bahwa sejatinya kebanyakan kita masih melihat kegagalan dari kaca mata yang keliru. Seorang periset psikologi Jon Jachimowicz di Huffington Post berpesan.

“Kegagalan adalah langkah penting untuk perbaikan diri. Jika kita membiarkan rasa takut menghentikan kita untuk mencoba dan melakukan kesalahan, maka kita hanya akan memperoleh porsi keberhasilan yang sedikit.”

10. Keterampilan Kepemimpinan

Sifat-sifat kepemimpinan yang kerap kita singkronkan dengan karakter kepemimpianan antara lain adalah mampu menginspirasi, gemar menolong, mampu menjadi versi terbaik dirinya, dan punya relasi yang luas. Karakteristik-karakteristik tersebut tentu perlu dibangun pada diri setiap pelajar. Mengingat setiap individu pastinya punya peluang untuk mengambil peran kepemimpinan dalam merangkul dan mengarahkan timnya mengembangkan solusi dan menyelesaikan proyek atau pekerjaan di masa depan. 

Dalam konteks modernisasi, kepemimpinan sebuah tim tidak lagi berlaku karena senioritas (top-down authority), melainkan pengaruh. Hal ini dijelaskan oleh Wagner secara gamblang. 

“Kepemimpinan ini tentang bagaimana warga negara membuat perubahan hari ini di komunitas lokal mereka — dengan mencoba mempengaruhi beragam kelompok dan kemudian menciptakan aliansi kelompok-kelompok yang bekerja bersama menuju tujuan bersama.”

11. Keanekaragaman dan Kecerdasan Budaya

Saat ini dan tentunya ke depannya, setiap individu di muka bumi akan hidup minimal di dua dunia, nyata dan maya. Kemudahan berkomunikasi melalui media daring menjadikan kita mampu menggapai dan bekerja sama dengan orang-orang lintas dunia, yang tentu memiliki beraneka ragam personalitas dan budaya. 

Oleh karena itu, penting bagi para pelajar memahami, menghormati, dan menghargai perbedaan ras, agama, bahasa, usia, jenis kelamin, keyakinan politik, dan sebagainya. Keterampilan untuk memahami keragaman bukan saja mempermudah seseorang dalam memperoleh pengetahuan interdisipliner, membangun jejaring, menganalisa ragam data, namun juga mampu meredam potensi cyberbullying di sekitar kita.

12. Inisiatif dan Keterampilan Kewirausahaan

Sebagai pendidik, kita kerap menyemangati para siswa agar termotivasi menjadi pemimpin, mulai dari ketua kelas, imam salat, hingga ketua OSIS. Kita juga mengharapkan para pelajar bisa tumbuh dengan mengambil inisiatif. Lantas, apakah kita memberdayakan mereka untuk menyelesaikan tantangan global?

Anak-anak harusnya terinspirasi untuk menjadi 'pelaku' dan inovator. Zaman di mana kita hanya duduk-duduk santai dan menunggu perusahaan besar menyediakan lapangan pekerjaan telah usai. Sudah saatnya para peserta didik diajari tata cara mencari ide, menilik peluang bisnis, serta mempelajari strategi pengembangan keterampilan kewirausahaan. Termasuk bagi mereka yang kelak memilih menjadi seorang seniman.

13. Literasi Digital dan Pemikiran Komputasional

Revolusi industri 4.0 didorong oleh inovasi teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, virtual reality, blockchains, dan banyak lagi. Dengan kata lain, setiap orang di zaman ini dituntut untuk familier dengan segala hal terkait teknologi dan digitalisasi. Minimal masyarakat mampu memahami dampak dari potensi teknologi baru tersebut terhadap industri, bisnis, dan ragam pekerjaan lainnya. 

“Kita perlu melatih para cendekiawan untuk menghadapi tantangan abad ke-21, bahkan mungkin beberapa hal baru yang belum pernah kita temui sebelumnya,” kata Profesor Adam Habib, Wakil Rektor Universitas Witwatersrand.

Kemampuan literasi digital dapat diajarkan kepada peserta didik dengan cara memperkenalkan mereka pada keterampilan bekerja sama lintas sektor dalam pengembangan teknologi. Kesadaran tersebut akan membantu masyarakat terlepas dari jerat kemiskinan, pengangguran dan ketidaksetaraan. Serta pemikiran komputasional yang mampu menciptakan tatanan dunia baru yang memprioritaskan umat manusia sebelum keuntungan dan kekuasaan.”

14. Merangkul Perubahan

Di era pasca-industri, dampak teknologi mengharuskan manusia untuk terbiasa memiliki elastisitas mental, kelenturan sikap, dan kemampuan beradaptasi dengan baik dan cepat. Kita harus mampu menghadapi konsekuensi gangguan yang tidak terduga, dan menyisihkan hal-hal yang tak lagi efektif. 

Dalam buku, “Berpikir Kritis: Bagaimana Mempersiapkan Siswa untuk Dunia yang Berubah dengan Cepat”, Richard Paul dan Dillion Beach tampak menyindir pola pendidikan yang lambat mengikuti tantangan perubahan zaman. Mereka menyebutkan bahwa prosedur pendidikan kuno mengajari hal yang rutin dan tetap. “Kita belajar suatu hal yang sama dan terus menerus mengulanginya hingga beberapa kali. Belajar untuk terbiasa,” tulis mereka. “Namun, apa artinya belajar hal yang sama berulang kali? Agar nyaman dalam keabadian pengulangan pembelajaran?” 

Oleh karenanya, para pelajar harus terbiasa merangkul perubahan. Sesederhana membiasakan diri untuk nyaman berurusan dengan kelas baru, teman baru, pengajar baru, mata pelajaran baru, dan tugas baru. Membiasakan diri untuk melihat perubahan bukan sebagai beban tetapi sebagai peluang untuk tumbuh dan berinovasi.

15. Keterampilan Berbicara dan Menulis Efektif

Secara kultural, kemampuan wicara pelajar di Provinsi Aceh hampir tidak perlu diragukan, sangat lihai. Namun sayangnya, semangat menulis masyarakat Aceh kini tidaklah semenggelora para ulama di masa kerajaan Aceh Darussalam terdahulu. 

Di sadari atau tidak, di era global, keterampilan berbicara dalam waktu singkat (pitching) dan kemampuan menulis kreatif akan menjadi senjata ampuh untuk “unjuk gigi” kepada penduduk di belahan bumi lainnya. Mengomunikasikan gagasan secara efektif menjadi keterampilan yang berharga. Hal tersebut mampu mencerminkan seberapa jernih pemikiran seseorang.

Tim Amazon, Fareed Zakaria berpesan, “Berpikir dan menulis saling terkait. Ketika saya mulai menulis, saya menyadari bahwa 'pikiran' saya tidak terstruktur, tidak terdapat koherensi, dengan logika berpikir yang masih berlubang-lubang.”

Dalam lingkungan di mana lebih banyak orang yang mungkin bekerja dari jarak jauh dan hanya terhubung melalui perangkat digital, keterampilan kuno seperti membaca bahasa tubuh mungkin menjadi kurang relevan. Maka ajarilah anak-anak untuk menyampaikan gagasan dan emosi mereka, secara oral ataupun tertulis, dengan jelas dan singkat.

Dari pemaparan kelima belas keterampilan masa depan di atas, mungkin kita merasa cukup telat menyadari pentingnya menyelaraskan kurikulum dan metode pendidikan dengan keterampilan global mendatang. Kita bisa jadi cukup tertinggal dibandingkan persiapan yang telah gencar dilakukan negara-negara maju di dunia, bahkan negara tetangga terdekat seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Namun, seperti kata pepatah, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”. Maka sudah saatnya kita sadar diri dan bangkit kembali. Layaknya guyonan populer yang sering diperdengarkan, “Kelebihan menjadi rakyat dari negara berkembang adalah kita dapat mengadopsi metode-metode yang memberikan hasil terbaik dan menghindari praktik-praktik yang berdampak buruk dari negara-negara yang telah lebih dulu maju.” []


Referensi:

Bidshahri, R. (2017). 7 Critical Skills for the Jobs of the Future. Diakses dari https://singularityhub.com/2017/07/04/7-critical-skills-for-the-jobs-of-the-future/

Jachimowicz, J. M. (2014). Using Failure as an Opportunity to Reflect Instead of Feeling Defeated: Let’s Strive to “Fail Better”. Diakses dari https://www.huffpost.com/entry/using-failure-as-an-oppor_b_5886938

Kununu. (2017). School is Cool: 6 Important Career Skills You Learn from Pre-school to College. Diakses dari https://transparency.kununu.com/6-career-skills-you-learn-from-preschool-to-college/

Lazuardi, G. (2019). Bonus Demografi di 2020 Jadi Kekuatan Indonesia Genjot Pembangunan. Diakses dari: https://www.tribunnews.com/nasional/2019/08/22/bonus-demografi-di-2020-jadi-kekuatan-indonesia-genjot-pembangunan

Lukins, S. (2019). Future Skills You’ll Need in Your Career by 2030. Diakses dari https://www.topuniversities.com/student-info/careers-advice/future-skills-youll-need-your-career-2030

Marr, B. (2019). The 10 Vital Skills You will Need for the Future of Work. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/bernardmarr/2019/04/29/the-10-vital-skills-you-will-need-for-the-future-of-work/#6c29e4f33f5b

Satell, G. (2018). How Amazon Innovates. Diakses dari https://www.digitaltonto.com/2018/how-amazon-innovates/

Singmaster, H. (no year). Seven Skills Students Needs for Their Future. Diakses dari https://asiasociety.org/education/seven-skills-students-need-their-future

Sisd. (t.b.). Important Skills your Child should be Learning in School. Diakses dari https://sisd.ae/important-skills-child-learning-school/

Tempo.co. (2019). Hadapi Bonus Demografi, Angkatan Kerja Miliki Empat Tantangan. Diakses dari https://nasional.tempo.co/read/1251396/hadapi-bonus-demografi-angkatan-kerja-miliki-empat-tantangan

World Economic Forum. (2016). Chapter 1: The Future of Jobs and Skills. Diakses dari http://reports.weforum.org/future-of-jobs-2016/chapter-1-the-future-of-jobs-and-skills/


Tag: Keterampilan, Anak

Comments: