Foto Foto oleh Steve Johnson | Unsplash

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Ayu 'Ulya - Rabu, 12 Februari 2020

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Saat masih mahasiswa dulu, saya senang berdiskusi dengan beberapa teman lintas universitas terkait beragam metode pembelajaran efektif dan tips-tips agar tidak mudah mengantuk selama proses belajar. Dari ragam nasihat bijak yang saya terima, salah seorang teman yang berkuliah di President University, Bekasi, Jawa Barat berceletuk. 

“Setiap orang pasti punya cara belajar berbeda-beda. Tapi ada satu rahasia yang penting. Sediakan stok air putih selama belajar. Kalau perlu stok air minumnya juga dibawa ke kamar tidur,” paparnya sambil terkekeh.

Alih-alih menganggapi petuah itu sekadar angin lalu, intuisi saya justru menerima dengan serius. Celetuk yang tak biasa itu membuat saya penasaran. Sehingga, saya memutuskan untuk mengulang kaji kembali kebenaran nasihat tersebut.  

Disadari atau tidak, saat mendiskusikan topik terkait pendidikan, kita kerap hanya memfokuskan diri pada bahan ajar, metode belajar, dan perilaku pendidik serta peserta didik saja. Kita jarang menelisik lebih jauh dari topik-topik tersebut. Padahal dalam membangun struktur kecerdasan manusia, agaknya kita juga wajib memahami keilmuan terkait fungsi otak atau neurosains.

Fungsi dan kinerja otak tentu memengaruhi proses belajar-mengajar seseorang. Otak merupakan organ sentral informasi pada tubuh manusia. Otak yang sehat mengandung sekitar 73% air. Sehingga memastikan tubuh terhindrasi dengan baik merupakan hal penting. 

Salah satu cara terbaik agar tubuh memiliki cairan yang cukup adalah dengan mengonsumsi air putih. Menurut data yang dihasilkan oleh U.S. Geological Survey, asupan air putih membantu mengatur suhu tubuh internal, mencerna makanan, melumasi sendi, membuang racun, dan juga bertindak sebagai “peredam kejut” bagi otak dan tulang belakang manusia. Sehingga, memastikan tubuh terhidrasi dengan baik merupakan salah satu cara termudah dalam menjaga stabilitas kesehatan, terutama di saat-saat penuh tekanan menjelang ulangan atau ujian. 

Namun sayangnya, kebanyakan pelajar justru lebih mengandalkan jajanan berupa minuman berkafein seperti kopi dan minuman soda berkadar gula tinggi yang justru membuat tubuh mengalami dehidrasi (kekurangan asupan cairan). Tentu akan sangat baik jika para pelajar diajak untuk membawa air minum sendiri dengan menggunakan botol minum mereka masing-masing. Serta akan menjadi solusi bijak apabila lembaga-lembaga pendidikan turut andil dalam menyediakan galon-galon air minum isi ulang bagi para peserta didik mereka. Di Provinsi Aceh sendiri, kebijakan semacam itu sudah mulai digaungkan dan diaplikasikan dengan baik oleh beberapa lembaga pemerintahan dan pendidikan, seperti Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3) Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala, dan Sekolah Sukma Bangsa Pidie. 

Dehidrasi sendiri dapat didefinisikan sebagai proses berkurangnya cairan sebanyak lebih dari 2% dari total berat badan. Hal ini memberikan efek negatif signifikan terhadap kondisis fisik dan mental. Ketika seseorang mengalami dehidrasi, biasanya akan terjadi berbagai macam masalah kesehatan, seperti sakit kepala, mata kering, kelelahan, dan pusing. Bahkan apabila kronis, dehidrasi dapat menyebabkan demam, pingsan, dan tekanan darah yang berbahaya. Dehidrasi juga dipercaya mengurangi kemampuan berkonsentrasi dan menurunkan kinerja kognitif. Banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa kondisi dehindrasi memengaruhi kemampuan motorik, kecerdasan, daya kreativitas, bahkan suasana hati seseorang.

Walau literatur terkait pengaruh dehidarasi terhadap fungsi kognitif manusia masih terbatas, namun perlu dipahami bahwa dehidrasi kerap memengaruhi kinerja otak seperti memori jangka pendek dan fokus. Laura DeFina MD selaku Presiden Eksekutif The Cooper Institute memberikan tanggapannya.

“Ketika muncul konflik informasi, maka nyaris dipastikan otak sedang mengalami dehidrasi, terutama pada anak dan orang lanjut usia. Bagi mereka yang dari awal mengalami kesulitan kognitif, dehidrasi akan memperparah hal tersebut.”   

Dengan demikian, efek dehidrasi tidak hanya memengaruhi fungsi fisik, namun juga fungsi intelektual dan mental. Kemudian Dr. DeFina juga menunjukkan ternyata tidak ada bukti bahwa jus, air kelapa, dan beragam minuman isotonik lainnya punya khasiat lebih baik dari pada air putih.

Kemudian dari pada itu, masalah lain yang kerap menjadi perdebatan adalah terkait jumlah asupan air putih yang dianggap cukup bagi tubuh guna terhidrasi dengan baik. Disebutkan bahwa rata-rata orang dewasa butuh mengonsumsi air sebanyak 9-13 gelas perhari. Namun dikarenakan setiap orang itu unik, maka asupan cairan ideal setiap orang pun menjadi berbeda-beda. Adapun faktor perbedaan tersebut terdiri atas jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, usia, kondisi lingkungan, dan jenis aktivitas yang dilakukan.

Adapun salah satu cara sederhana untuk menilai terhidrasi atau tidaknya tubuh adalah melalui urin. Warna dan aroma urin dapat menjadi indikator cukup atau tidaknya tubuh menerima asupan air. Jika urin berwarna kuning muda (seperti limun) dan memiliki aroma yang ringan, artinya tubuh terhidrasi dengan baik. Sebaliknya, ketika warna urin pekat dan aromanya kuat, maka tubuh semakin dehidrasi. 

Penelitian bertahun-tahun telah menemukan bahwa ketika dehidrasi, manusia lebih sulit menjaga fokus. Dehidrasi dapat merusak fungsi memori jangka pendek dan ingatan dari memori jangka panjang. Seorang pakar otak, Jashua Gowin, menjelaskan bahwa dehidrasi tak hanya terjadi ketika seseorang aktif berkegiatan saja. Namun, dehidrasi terlama justru terjadi saat kita beristirahat di malam hari, tepatnya ketika tidur. 

“Dalam satu hari, 24 jam, kita justru tidak mengonsumsi air sama sekali selama tidur malam yaitu sekitar enam hingga delapan jam. Tidur memang tidak menghasilkan banyak keringat, namun bukan berarti kita tidak kehilangan cairan tubuh. Setiap kali kita bernapas, tubuh mengeluarkan uap sehingga ia menjadi kering. Karena itu setelah bangun tidur, saya terbiasa untuk segera minum.” 

Sejatinya, standar asupan air untuk tubuh setiap manusia perlu diketahui dengan baik oleh sang pemilik tubuh tersebut. Mengingat hal itu tak hanya diperlukan untuk mencegah tubuh dari kekurangan cairan, namun juga agar asupan air jadi tidak berlebih (overhydration). Ketika seseorang mengonsumsi cairan secara berlebihan maka ia dapat mengalami keracunan air atau juga disebut dengan istilah hiponatremia. Oleh karenanya, mengosumsi sejumlah air yang tepat tentu penting bagi penjagaan tubuh dan juga otak.[]


Referensi

Cooper Aerobics Marketing and Communications. (t.b.). Dehydration and Its Effects on Brain Health and Function. Diakses dari https://cooperaerobics.com/Health-Tips/Prevention-Plus/Effects-of-Dehydration-on-the-Body-and-Brain.aspx 

Georgia Institute of Technology. (2018). Dehydration Alters Human Brain Shape and Activity, Slackens Task Performance. Diakses dari https://medicalxpress.com/news/2018-08-dehydration-human-brain-slackens-task.html

Gowin, J. (2010). Why Your Brain Needs Water. Diakses dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/you-illuminated/201010/why-your-brain-needs-water

Lorenzo, C. (2018).  What Happens to Your Brain When You’re Dehydrated? The Results Can be Kind of Scary. Diakses dari https://www.bustle.com/p/what-happens-to-your-brain-when-youre-dehydrated-the-results-can-be-kind-of-scary-9641799

Student Health and Counseling Services. (2015). Your Brain on H2O. Diakses dari https://shcs.ucdavis.edu/blog/archive/healthy-habits/your-brain-h2o

Young, H.A., Cousins, A., Johnston, S., Fletcher, J.M., & Benton, D. (2019). Autonomic Adaptations Mediate the Effect of Hydration on Brain Functioning and Mood: Evidence from Two Randomized Controlled Trials. Diakses dari https://www.nature.com/articles/s41598-019-52775-5


Tag: Kesehatan

Comments: