Foto Foto oleh Duangphorn Wiriya | Unsplash

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Ayu 'Ulya - Rabu, 19 Februari 2020

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Dalam fase hidup manusia, setiap orang pastinya pernah melamun. Melamun kerap dikaitkan dengan kegiatan berdiam diri sambil berkhayal, sehingga tercipta ruang imajinasi. Aktivitas melamun biasanya terjadi dikarenakan otak merasa jenuh atau bosan. 

Apalagi jika mengingat semakin meningkatnya aktivitas on the screen para manusia era revolusi industri 4.0 seperti sekarang, maka aktivitas otak pun menjadi sangat tinggi. Banjir informasi dan tingginya distraksi, terlebih dari aktivitas sosial media di dunia maya, menghasilkan manusia dengan konsentrasi pendek dan rasa bosan yang mudah. Rutinitas keseharian yang monoton juga dipercaya menjadi aspek lain dari penyebab timbulnya kebosanan. 

Tak dapat dimungkiri bahwa kebosanan menjadi topik populer di kalangan para siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan. Rasa bosan juga mendera para pekerja, terutama bagi mereka yang menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan aktivitas monoton dalam jangka waktu panjang di perkantoran.  

Kebanyakan orang beranggapan bahwa kebosanan erat kaitannya dengan sikap malas, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, dan kurangnya motivasi. Namun, bagaimana jika sebenarnya anggapan tersebut keliru? Bagaimana jika rasa bosan justru merupakan cerminan dari kondisi mental yang sehat dan kreatif?

Dr. John Estwood-dari University of York di Ontario, Canada-mendefinisikan kebosanan sebagai keinginan untuk melakukan aktivitas positif, tetapi merasa tidak mampu melakukannya. Jadi, menurut Dr. Eastwood, kebosanan adalah masalah otak, bukan sekadar disebabkan oleh keadaan lingkungan di sekitar seseorang saja.

Kemudian Dr. Wijnand van Tilburg, seorang saintis dari the University of Limerick, menambah bumbu paradoks pada makna kebosanan yang kerap dianggap negatif oleh kebanyakan orang. Menurutnya, rasa bosan bisa menjadi motivasi kuat bagi seseorang untuk mencari tugas yang tidak menyenangkan namun bermakna, seperti donor darah, atau melakukan hal yang tidak berarti namun menyenangkan, contohnya melamun. Kebosanan membuat orang merindukan kegiatan berbeda, menantang, dan lebih bermakna dalam kehidupan.   

Jika mengacu pada penjelasan para pakar di atas, kita dapat menarik benang merah antara sikap melamun, rasa bosan, dan kinerja otak. Disadari atau tidak, melamun menjadi sebuah mekanisme bertahan diri yang dikembangkan otak demi menjaga daya kreativitasnya di tengah rasa bosan. Otak seakan berusaha beristirahat dan menenangkan diri dari distraksi yang berpotensi memecah konsentrasi yang berujung pada timbulnya gejala stres. 

Penarikan kesimpulan tersebut ternyata juga sejalan dengan pendapat Susan Whitfield-Gabrieli dan John Gabrieli, pakar saraf (neuroscientists) dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Mereka menjelaskan bahwa kondisi otak seseorang saat diistirahatkan atau dalam kondisi melamun menghasilkan kecenderungan skor IQ yang lebih tinggi. Susan dan John berasumsi bahwa kemampuan manusia dalam menghubungkan ragam ide kreatif ternyata erat kaitannya dengan kebiasaan melamun. Studi yang dilakukan oleh kedua pakar neurosains ini memberi pencerahan menarik. Melamun, kegiatan yang selama ini dianggap tidak produktif dan terkesan buang-buang waktu tersebut, ternyata jika dipraktikkan sesuai kebutuhan justru mampu menghasilkan hal positif, seperti peningkatan inteligensi pada seseorang. 

Oleh karenanya, jika kelak kita menemukan anak didik yang senang melamun di tengah pembelajaran, maka alangkah baiknya untuk tidak dimarahi. Cukup ditegur dan dibimbing dengan baik. Selain itu, para pengajar juga wajib mengevaluasi diri. Bisa jadi cara penyampaian pembelajaran di kelas selama ini tidak menarik. Bisa pula karena materi yang disajikan terlalu mudah atau bahkan sangat sulit. Sehingga, para murid memilih untuk melamun dalam rangka mengobati rasa bosan. Oleh karenanya, jika tidak ingin murid menghabiskan waktu untuk berkhayal selama pembelajaran, maka kreatiflah dalam mengajar. 

Nah, ternyata hasil penelitian tersebut, mau tak mau, mewajibkan kita sebagai pendidik untuk bercermin kembali. Kita harus mengubah pemikiran dan sikap melabeli anak-anak yang suka melamun sebagai sosok yang malas dan tidak peduli. Para guru sebaiknya menyadari bahwa melamun juga merupakan salah satu metode untuk memperkaya alam imaginasi. Ingat kata Albert Einstein, “Imaginasi itu lebih penting dari pada ilmu.”[]


Referensi:  

Dr. Wijnand van Tilburg. (t.b.). Collection about Research of Boredom. Diakses dari http://van.tilburg.socialpsychology.org/publications 

John D. Eastwood, dkk. (2012). The Unengaged Mind: Defining Boredom in Terms of Attention. Diakses dari https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1745691612456044 

Sandi Mann. (2016).  The Science of Boredom: Why Boredom is Good. Diakses dari https://books.google.co.id/books?id=3fUqCgAAQBAJ&lpg=PP1&hl=id&pg=PP1#v=onepage&q&f=false

Susan Whitfield-Gabrieli and John Gabrieli. (2010). Idle Minds and What They May Say about Intelligence. Diakses dari https://www.scientificamerican.com/article/idle-minds-intelligence/


Tag: Kecerdasan

Comments: