Foto Foto oleh Guillaume de Germain | Unsplash

Miskonsepsi tentang Kecerdasan Anak

Fadhlur Rahman - Rabu, 30 Oktober 2019

"Ibu X: Si Apis keterima di IPA atau IPS, bu?

Ibu Y: Ooh.. dia sering masuk 3 besar, gurunya bilang cocoknya masuk ke kelas IPA.

Ibu X: Iya siih bu, kasian kalo di kelas IPS, ntar jadi bandel.

Ibu Y: Iyaa, saya pun pengennya dia jadi dokter sih nanti.

Ibu X: Si Apis emang pinter sih, encer otaknya, ya kan bu? Gak kayak anak saya, emang gak sanggup otaknya. Ada saja kelakuannya.

Ibu Y: Jadi, anak ibu masuk IPS?

IBu X: Iya, dia bandel sih, asik main gitar aja, terus pernah sekali kedapatan sama ayahnya maen PS (Playstation) di samping warnet depan. Entah mau jadi apa itu dia nanti."

Mungkin kita sering mendengar petikan percakapan di atas, baik di pertemuan julo-julo bulanan maupun di antrian panjang menunggu panggilan. Percakapan tersebut mungkin merupakan salah satu contoh fenomena ganjil yang ada dalam dunia pendidikan kita. Memang, problematika dalam memahami perbedaan individu dan variasi gaya belajar si anak masih jauh dari perhatian orang tua, bahkan guru di sekolah. Sehingga, miskonsepsi tentang kecerdasan si anak masih, dan akan terus berlanjut di momen-momen perbincangan lainnya, tidak tahu sampai kapan. Anak pintar selalu dikait-kaitkan dengan mereka yang jago matematika, yang mampu menguasai rumus-rumus fisika atau yang mampu mengikuti proses pembelajaran di sekolah dengan baik dan gemilang di hasil akhir ujian. Sedangkan, si anak yang “otaknya kurang”, selalu dikaitkan dengan hal-hal seperti: terlalu banyak menghabiskan waktu bermain bola, main game, atau yang paling absurd, karena terlalu sering memetik senar gitarnya. Oleh karena itu, penting bagi kita (orang tua atau calon orang tua, guru atau calon guru) untuk mengkaji ulang kembali tentang bagaimana, sih, konsep kecerdasan itu sebenarnya. 

Seorang pemerhati pendidikan asal Amerika Serikat, yang juga merupakan seorang psikolog, Howard Gardner, memperkenalkan sebuah konsep yang dinamakan multiple intelligences (kecerdasan majemuk). Ini merupakan teori pembaruan praktis yang paling krusial untuk menjawab permasalahan perbedaan individu dan gaya belajar si anak. Gardner di dalam buku fenomenalnya, Multiple intelligences for the 21st century, memperkenalkan setidaknya ada 8 unit fungsi intelektual yang berbeda-beda pada setiap individu, setiap kemampuan atau kecerdasan tersebut dapat diamati dan dievaluasi secara bertahap perkembangannya (Gardner, 1999). Adapun delapan unit kecerdasan majemuk tersebut ialah; 1. kecerdasan verbal-linguistik (kemampuan daya pikir yang tertata dengan baik melalui ungkapan kata-kata, baik dalam bentuk verbal maupun tulisan), 2. kecerdasan logis-matematis (kemampuan daya pikir yang tersusun dengan baik melalui kemampuan analitis dan logis), 3. kecerdasan kinestetik-tubuh (kemampuan menyeimbangkan daya pikir dengan gerakan fisik), 4. kecerdasan visual-spasial (kemampuan untuk merekonstruksi suatu objek dengan detail), 5. kecerdasan musikal (kemampuan untuk mengembangkan dan mengekspresikan daya pikirnya ke dalam bentuk musikal), 6. kecerdasan intra-personal (kemampuan daya pikir untuk pengembangan diri), 7. kecerdasan inte-rpersonal (kemampuan untuk melakukan partisipasi aktif dengan orang lain), dan 8. kecerdasan naturalis (kemampuan untuk peka terhadap alam dan memahami fenomena-fenomenanya).

Di penelitian berikutnya, Gardner menambahkan bahwa manusia juga mempunyai kecerdasan spiritual, namun Gardner tidak terlalu membahas lebih lanjut tentang fungsi dan bagaimana kecerdasan spiritual itu bisa dikembangkan . 

Sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya, atau di Aceh khususnya, masih terlalu fokus pada pengembangan kecerdasan logis-matematis dan verbal-linguistik saja. Oleh karena itu, ini merupakan tantangan besar tersendiri bagi orang tua, guru dalam memandang dan memperlakukan kecerdasan majemuk lain menjadi sama pentingnya. Implementasi kecerdasan majemuk di kelas menjadi sangat penting karena dengan memahami konsep ini, maka kita akan dengan lebih mudah menemukan penerapan pendekatan pembelajaran yang lebih unggul sehingga memberikan manfaat jangka pendek dan jangka panjang bagi si anak.

Dikarenakan esensi dari teori ini adalah untuk menghormati perbedaan individu, yaitu tentang bagaimana mereka belajar, dan teknik penilaian apa yang paling cocok untuk digunakan, maka muncul pertanyaan: dengan mengetahui dan memahami konsep kecerdasan majemuk ini, bagaimana kita dapat membantu siswa untuk mengembangkan kecerdasan diri mereka? 

Guru dan orang-tua memainkan peran penting dalam penerapan, pengayaan materi dan pengintegrasiannya konsep kecerdasan majemuk ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Contoh, ketika kita tahu bahwa anak didik kita sebagian besarnya memiliki kecerdasan kinestetik, maka kita bisa memaksimalkan potensi itu melalui penerapan permainan kompetitif serta kooperatif untuk merangsang gerakan kinestetik-tubuh mereka selama proses belajar-mengajar (Amstrong, 2008). Dalam perencanaan pembelajaran tersebut kita dapat melakukan kegiatan pengembangan bahasa dan interpersonal mereka. Contohnya dengan cara pengelompokan drama-teater kelas. Si anak akan giat berdiskusi dan berinteraksi dengan teman sekelas/ sejawatnya. Alternatif lain, kita juga bisa melakukan kunjungan lapangan atau laboratorium untuk memahami konsep-konsep dasar fisika, kimia dan biologi. 

Lebih lanjut, jika kita menemukan di antara peserta didik banyak yang lebih condong memiliki kecerdasan intrapersonal atau cenderung menutup diri dari kebisingan kelas atau yang lebih populer dengan sebutan para “introvert”, maka kita dapat melakukan pendekatan yang lebih personal, sempatkan waktu untuk duduk bersama mereka secara terpisah dari kawanan lainnya, sehingga kita bisa lebih leluasa untuk mencari tahu perasaan mereka, motivasi, dan tujuan mereka terhadap pembelajaran. Pada umumnya, mereka belajar secara mandiri melalui refleksi-diri (self-reflection). Mereka cenderung lebih suka diberi tugas terpisah, seperti membuat jurnal harian atau membuat skedul belajar mereka sendiri, tugas kita mengawasi dari kejauhan atau sesekali melakukan tutorial secara bertahap untuk melihat perkembangannya.

Untuk anak yang memiliki kecerdasan visual-spasial yang lebih, Nelson (2006) menganjurkan agar kita melakukan kegiatan pembelajaran dengan  stimulasi digital, seperti, dengan kegiatan bercerita di depan kamera atau sekarang yang lebih dikenal sekarang dengan “vlogging” atau bisa juga dengan menstimulasi keaktifan mereka untuk memberikan argumen dan komentar via group-chat. Dengan metode ini, siswa secara bersamaan akan menyintesis dan membuat makna baru ketika mereka menggabungkan gambar visual dan teks menjadi satu. Hasilnya, kegiatan semacam ini akan mengembangkan kemahiran bahasa mereka tanpa mereka sadari.

Contoh lain, sistem pembelajaran pada kecerdasan spasial bisa di kolaborasikan oleh guru dengan penerapan metode pengajaran khusus seperti permainan analitis untuk mengajar siswa yang memiliki kapasitas yang kuat dalam penalaran logis-matematis (Amstrong, 2008). Kegiatan semacam ini tidak hanya akan merangsang penalaran kritis mereka namun juga di saat yang bersamaan mereka mampu untuk memvisualisasikan apa yang mereka lihat ketika menyelesaikan suatu masalah, sehingga memicu atensi mereka untuk lebih aktif menyampaikan pendapat mereka selama proses belajar-mengajar, yang mana juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas kecerdasan yang lain, yaitu bahasa-verbal mereka (Bas, 2008)

Sedikit banyak dari pendekatan kecerdasan majemuk di atas setidaknya mampu mengubah stigma orang tua dan guru terhadap kecerdasan anak. Orang tua dan guru sudah seharusnya menyadari bahwa setiap anak memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing sebagai individu. Dengan demikian, tugas kita ialah menemukan cara strategis untuk membantu si anak untuk memenuhi potensi mereka. Bahkan, anak bisa memiliki kecerdasan yang lebih dari satu, misalnya kemampuan visual dan kinestetiknya cukup seimbang, sehingga banyak kegiatan belajar mengajar yang bisa di kolaborasikan. Anak yang menghabiskan “waktu sendirinya” dengan memainkan gitar atau pianika tidak boleh dikategorikan sebagai anak yang memiliki IQ jongkok atau memliki otak yang kurang, namun mereka merupakan anak-anak yang potensial, yang bisa kita bantu pembelajarannya dengan model kinestetik atau intrapersonal, bahkan kemampuan bermain musik itu sendiri pun merupakan potensi dari kecerdasan musikal, yang layak untuk di kembangkan. Bisa saja, nantinya mereka menjadi komposer-komposer jenius di masa depan, seperti layaknya Mozart dan Beethoven. Begitu juga dengan anak yang menghabiskan waktu sorenya bermain sepak bola, kemampuan kinestetik ini mungkin saja tidak dimiliki oleh temannya yang lain, ini merupakan potensi yang bisa dikembangkan, coba lihat betapa jeniusnya Zinedine Zidane dalam menggocek bola dan memberikan umpan, atau sepakan melengkung khas David Beckham. Bisa saja kedua pesepakbola jenius tersebut tidak menonjol dalam kecerdasan verbal atau matematis, namun potensi kecerdasan mereka lebih condong ke interpersonal dan kinestetik. Sebagaimana yang dinyatakan oleh McKenzie (2005), esensi teori ini dimaksudkan untuk memberdayakan, bukan untuk melabeli seseorang. Ini bukan tentang seberapa pintar orang tersebut, namun dengan cara apa orang itu pintar []


Referensi:

Armstrong, T (2008). Multiple Intelligences in the Classroom 3rd ed. Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.

Bas, G. (2008). Integrating multiple intelligences in ESL/EFL classrooms. The Internet TESL Journal, 14(5).

Gardner, H. (1999). Intelligence reframed: Multiple intelligences for the 21st century. New York: Basic Books.

McKenzie, W. (2005). Multiple intelligences and instructional technology (2nd ed). Eugene: Oregon: Washington, DC. 

Nelson, M. E. (2006). Mode, meaning, and synaesthesia in multimedia L2 writers. Language Learning & Technology, 10(2), 56-76. 



Tag: Kecerdasan, kecerdasan majemuk, Multiple Intelligences, Anak

Comments: