Foto Foto oleh Chinh Le Duc | Unsplash

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Ayu 'Ulya - Kamis, 5 Desember 2019

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Pada tahun 2016, saya memasuki sebuah dunia baru yang mengubah pandangan saya terhadap dunia pendidikan anak usia dini menjadi berbalik 180 derajat. Pasalnya tahun itu saya dianugerahi kesempatan untuk menjadi guru pembina kelas 2 salah satu sekolah dasar swasta di kawasan Banda Aceh. Sejujurnya, mengajar dan membimbing para belia bukanlah hal baru bagi saya pribadi. Mengingat sebelumnya pun saya sudah mendapatkan segelintir modal pengalaman dalam ranah mendidik anak-anak usia dini, bahkan setara PAUD dan TK, saat menjadi sukarelawan pengajar di beberapa program pendidikan di desa-desa Provinsi Aceh. Namun, hal yang menjadikan petualangan mengajar kali ini jelas berbeda adalah karena kelas yang saya bina saat itu merupakan kelas inklusi, di mana murid-murid dengan ragam kecerdasan dan persoalan belajar berbaur bersama.

Dalam penelitian terkait Pancasila dan Pendidikan, Siswoyo mengutip definisi pendidikan dari Presiden Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Menurutnya, pendidikan adalah transmisi dan transformasi pengetahuan (knowledge), nilai-nilai (values), dan keterampilan-keterampilan (skills) di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup. Dengan kata lain, konten pendidikan berisikan tidak hanya keilmuan dan keahlian, namun juga pembentukan karakter manusia. 

Merujuk pada definisi tersebut maka benar bahwa pendidikan tak melulu berbicara tentang teori ilmu pengetahuan, akan tetapi juga cara bersikap dalam kehidupan. Lantas bagaimana cara pendidik menyikapi tuntutan ini, terlebih di kelas inklusi? Bagaimana juga caranya menjaga imajinasi dan rasa penasaran (curiosity) para peserta didik dalam menjalani pembelajaran sembari ikut serta menjaga energi dan kewarasan diri sebagai pendidik?

Maka sungguh salah jika kita menduga bahwa mendidik belia adalah pekerjaan yang mudah, apalagi dilakukan secara asal-asalan tanpa persiapan. Mengingat bahwa tak ada pendidikan ulang bagi mereka. Pendidikan usia dini seharusnya menjadi salah satu pondasi bagi setiap anak untuk memiliki pengalaman bermain dan belajar secara menyenangkan di lembaga pendidikan yang dinamakan sekolah. 

Sejujurnya, selama mendidik anak usia dini, entah mengapa saya kerap merasa bahwa justru para belialah yang mendidik saya. Selama melakukan proses belajar-mengajar bersama mereka, saya kembali disadarkan tentang belajar dari rasa penasaran, mempertanyakan ulang segala hal, tidak takut melakukan eksplorasi, berpikir secara kreatif, dan selalu meluangkan waktu untuk bermain-main.

Austin Kleon, seniman sekaligus penulis, berpendapat bahwa anak-anak memiliki keajaiban luar biasa dalam memunculkan hal-hal kreatif. Dia menyatakan bahwa anaknya menginspirasi dia untuk memandang dunia dengan menggunakan lensa baru (fresh eyes). Memandang hal sama dengan sudut pandang berbeda, itulah yang disebut kreativitas. Ringkasnya, anak-anak mengingatkan kita untuk tidak menganggap suatu hal terlalu serius, mengajak kita bertualang melihat dunia yang aneh sekaligus mengagumkan ini sebagai sumber inspirasi. Pada dasarnya anak-anak mengingatkan kita bahwa kreativitas erat kaitannya dengan bermain. Anak-anak merupakan sosok genius yang secara alami membiarkan intuisi pemikiran dan sudut pandang penasaran menuntun mereka dibandingkan harus terikat pada konsep kaku yang dipenuhi kekhawatiran. 

Sejujurnya, jika kembali merefleksikan diri sebagai orang dewasa, rata-rata kita justru telah meninggalkan faktor-faktor penting di atas. Dibandingkan penasaran untuk mencari tahu kebenaran dan menimbang-nimbang simpulan, kita kerap menuduh. Dari pada bertanya, kita lebih senang bungkam walau tak paham. Saat seharusnya mengeksplorasi, kita stagnan pada asumsi. Andai pun memiliki opsi kreatif, kita cenderung tetap memilih cara yang sama agar mudah atau bahkan khawatir gagal dan salah. Oleh karenanya, jika kita penasaran mengapa pendidikan Indonesia, termasuk Aceh, sulit berkembang, maka ada baiknya kita kembali memikirkan ulang dan bertanya, “Sejauh mana para dewasa telah meninggalkan intuisi belajar alami dari rasa penasaran layaknya para belia?”.

Jika merujuk pada definisi yang diberikan Kementerian Pendidikan Nasional, rasa penasaran atau rasa ingin tahu adalah cara berpikir, sikap, dan perilaku yang mencerminkan keingintahuan terhadap segala hal yang dilihat, didengar, dan dipelajari secara mendalam. Dengan demikian, keingintahuan yang diarahkan secara positif akan menjadi modal belajar bagi para pelajar guna mengumpulkan pengetahuan dan informasi berguna yang ingin mereka ketahui. Melalui rasa penasaran, para peserta didik akan memiliki kesempatan untuk menjadi insan kreatif yang mampu untuk terus berinovasi. 

Kata inovasi pada dasarnya sangat mudah diucapkan namun kerap tidak demikian saat dipraktikkan. Inovasi menuntut ketelatenan dan kesabaran yang besar dalam menghadapi rentetan kegagalan. Tampaknya, hal itu yang hampir tidak pernah difasilitasi oleh kebanyakan lembaga pendidikan di Indonesia. Secara teoritis, semua pendidik dan orang tua menginginkan anak-anak yang sukses. Namun sayangnya, secara praktis, hanya segelintir para dewasa yang memfasilitasi, bahkan sekadar mengizinkan, anak-anak mereka memenuhi dahaga penasaran lewat eksplorasi dan kegagalan.  Tentu menuntut keberhasilan tanpa menerima kegagalan menjadi hal yang timpang. Untuk terus berkembang, manusia membutuhkan kegagalan di sela-sela keberhasilan. Dikarenakan seratus persen keberhasilan merupakan kemustahilan, andai pun bisa, itu melawan hukum keseimbangan alam.

Menurut penelitian terbaru, terdapat sebuah teori keberhasilan belajar di dunia pendidikan dengan istilah “The ‘85% Rule’ of Learning”. Disebutkan bahwa pembelajaran terbaik terdiri atas 15 persen kegagalan setiap waktunya. 

“Jika kamu memiliki rasio kesalahan sebanyak 15 persen atau akurasi kebenaran sebesar 85 persen, kamu telah melakukan usaha terbaik dalam memaksimalkan rasio pada kedua opsi tersebut,” jelas Robert Wilson, asisten profesor di Fakultas Psikologi dan Sains Kognitif, Universitas Arizona.  

Dia juga menambahkan bahwa cara menusia belajar dengan menggunakan konsep ‘85% Rule’ sangat sesuai dengan pengaplikasian metode “pembelajaran persepsual (perceptual learning)”. Hal itu dapat diartikan sebagai perubahan persepsi jangka panjang melalui pembelajaran berkesinambungan melalui pengalaman dan contoh. 

Selain melalui teladan dan eksperimen, rasa penasaran juga dapat dibangun dari pengakuan ketidaktahuan. Masih kurangnya “pendidikan ramah kesalahan” di lembaga-lembaga pendidikan Indonesia menjadikan pengakuan ketidaktahuan akan pengetahuan masih dianggap tabu. Perlu diingat, ilmu pengetahuan itu luas, tentu seseorang tidak mungkin mengetahui segala hal. Hal ini tampak sejalan dengan hasil dari serangkaian lima studi terbaru dari Pepperdine University yang menunjukkan bahwa orang-orang yang bisa mengakui ketidaktahuan mereka cenderung benar-benar memiliki lebih banyak pengetahuan. 

Dalam studi tersebut, Elizabeth Krumrei-Mancuso menjelaskan bahwa keberanian mengakui ketidaktahuan mencerminkan kecerdasan pada diri seseorang. Bersama timnya ia menemukan model intellectual humility (IH), yang berkaitan dengan kemampuan seseorang yang memiliki wawasan dan kejujuran untuk mengakui ketidaktahuan tentang suatu pengetahuan atau pengalaman dari suatu masalah. IH dikaitkan dengan pengetahuan yang lebih luas, meskipun secara kemampuan kognitifnya tidak lebih tinggi.

Para ilmuwan telah lama menghubungkan kerendahan hati—yang didefinisikan sebagai kebajikan mengakui keterbatasan—dengan pembelajaran yang lebih akademis dan nilai yang lebih baik. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh kesadaran untuk belajar lebih banyak agar menjadi sukses. Kerendahan hati merupakan pengakuan tentang bahwa setiap orang memiliki kelemahan secara umum, IH mencerminkan kelemahan intelektual secara khusus. Seseorang yang secara intelektual rendah hati menyadari bahwa ide dan pendapat mereka mungkin salah. Pengakuan tersebut membutuhkan keterbukaan terhadap informasi baru dan, menurut sang peneliti, disebut sebagai bentuk "kemerdekaan yang sehat antara kecerdasan dan ego."

Para peneliti percaya bahwa IH mencerminkan perilaku yang dapat mengarahkan orang untuk belajar lebih banyak, khususnya terkait pemikiran reflektif, keingintahuan intelektual, dan keterbukaan. Mereka juga menemukan bahwa IH berkorelasi tinggi dengan berkurangnya kekerasan sosial (social vigilantism). Hal ini dapat diartikan bahwa orang yang rendah hati secara intelektual mampu bekerja lebih baik dengan orang lain. Tingginya kepemilikan intellectual humility (IH) dari seseorang juga tercermin dari rasa penasaran, di mana seseorang semakin ingin belajar dari waktu ke waktu. 

Menariknya, jika kita menilik kembali, Permendikbud No. 24 Tahun 2016 ternyata telah memaparkan jenis-jenis pengembangan karakter pelajar yang wajib dilakukan oleh para guru di Indonesia sejak jauh-jauh hari. Dari 18 karakter pelajar yang harus dibentuk, dua di antaranya terdiri atas poin kreatif dan rasa ingin tahu. Dengan kata lain, negara menjamin hak para pelajar untuk menjadi kreatif dan mengembangkan rasa ingin tahu mereka terhadap pembelajaran. Sehingga, pada dasarnya lembaga pendidikan, terutama sekolah, tidak diizinkan untuk melarang siswa-siswinya mengeksplorasi pengetahuan yang diajarkan. Sehingga, kalimat-kalimat seperti, “Alatnya jangan dipegang ya, nanti rusak”, atau “Buku pelajarannya wajib dibeli dari saya ya, kalau tidak nilainya akan kurang” seharusnya tidak terucap lagi dari para pendidik dan pemangku kebijakan pendidikan.   

Oleh karena itu, jika merujuk kembali pada pertanyaan yang saya ajukan di atas, “Bagaimana cara menjaga imajinasi dan rasa ingin tahu para pelajar, terutama usia sekolah, sembari tetap menjaga energi dan kewarasan diri pendidik itu sendiri?” Maka hanya ada satu solusi, yakni bersinergi. Setiap kita—pemangku kebijakan, pendidik, orang tua, masyarakat, bahkan peserta didik—sebaiknya memahami kewajiban yang harus dijalankan dan hak yang dapat dituntut. Kemudian secara bersama-sama berusaha mendukung jalannya aktivitas pendidikan bagi para pelajar. Sehingga, para peserta didik itu pun memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan, serta karakter baik yang maksimal dan berkesinambungan di berbagai tingkatan lembaga pendidikan. Dengan perolehan pendidikan realistis terbaik, diharapkan kelak para pelajar dapat menjalani kehidupan mereka dengan baik serta mampu ikut membantu orang-orang di sekitarnya [] 


Referensi:

Blue, A. (2019). The ‘85% Rule’ Makes for the Best Learning, According to a New Study (University of Arizona). Diakses dari https://curiosity.com/topics/the-85-rule-makes-for-the-best-learning-according-to-a-new-study-curiosity/

Donk, K. (2019). People Who Can Admit What They Don’t Know Tend to Know More. Diakses dari https://curiosity.com/topics/people-who-can-admit-what-they-dont-know-tend-to-know-more-curiosity/

Fauzi, A. R., Zainuddin, Al Atok, R. (2017). Penguatan Karakter Rasa Ingin Tahu dan Peduli Sosial Melalui Discovery Learning. Jurnal Teori dan Praktis Pembelajaran IPS P-ISSN 2503-1201 | E-ISSN 2503-5307© FIS, Universitas Negeri Malang. Diakses dari http://journal2.um.ac.id/index.php/jtppips/

Siswoyo, D. (2013). Pandangan Bung Karno tentang Pancasila dan Pendidikan. Cakrawala Pendidikan, 32(1): 103-115. Diakses dari https://journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/view/1264/pdf

Stillman, J. (2019). One Unusual Way to Unblock Your Creativity: Borrow a 4-Year-Old. Diakses dari https://curiosity.com/topics/one-unusual-way-to-unblock-your-creativity-borrow-a-4-year-old-curiosity/


Tag: Pendidikan, Anak

Comments: