Foto Foto oleh Ismail Hamzah | Unsplash

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Ayu 'Ulya - Rabu, 26 Februari 2020

Situs sedang tahap pembangunan (akses konten melalui https://linktr.ee/sikula )

Sikap percaya diri (PD) telah lama diakui sebagai salah satu kualitas personal seseorang. Topik terkait kepercayaan diri selalu hangat untuk dibicarakan dari dulu hingga sekarang. Hal tersebut dirasa penting untuk dibahas dengan lengkap karena kerapnya saya dimintai saran dan ditanyai tips untuk menjadi sosok yang percaya diri oleh sejawat dan juga para peserta didik di kampus dan sekolah. 

Walau terkesan biasa, sejatinya konsep percaya diri itu tidaklah sederhana. Percaya diri sangat erat kaitannya dengan pemahaman diri. Rasanya mustahil jika kita dituntut untuk percaya diri tanpa terlebih dahulu mengenal makna “diri” itu sendiri. Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad (KBA), dalam bukunya Wahdatul Wujud, memaparkan satu bab khusus terkait konsep diri.

“Diri adalah satu produksi hati yang otonom dan tidak bisa dilihat secara kasatmata. Diri merupakan penguasa pada tubuh manusia. Dia merdeka karena tidak berpihak. Dia berteman dekat dengan ruh atau nyawa. Jadi, siapa pun yang mampu terlepas dari pertempuran nafsu dan akal, maka sesungguhnya ia sudah bertemu dengan dirinya. Namun, proses pengenalan diri ini tidaklah mudah. Karena dia merupakan puncak dari segala medan pertempuran dalam tubuh manusia.”

Melalui pemaparan tersebut, KBA menerjemahkan konsep diri sebagai suatu hal yang berasal dari jiwa manusia (internal). Diri sesungguhnya merdeka dari faktor rangsangan luar (eksternal) seperti nafsu maupun akal. Dengan kata lain, diri dianggap selayaknya inti murni dari manusia itu sendiri.   

Definisi tersebut tampak sejalan dengan artikel yang dituliskan E. Ackerman, seorang peneliti bidang sains dan psikologi positif di Claremont Graduate University. Dia mengutip keterangan dari kamus daring psikologi yang menyatakan bahwa percaya diri (self-confident) merupakan kepercayaan individu pada kemampuan, kapasitas, penilaian, dan keyakinan diri bahwa ia akan berhasil menghadapi tantangan dan tuntutan sehari-hari. Dengan kata lain, percaya diri muncul dari perasaan kompeten. Namun, perasaan kompeten itu juga harus dikendalikan dengan bijak agar tidak menjelma menjadi arogansi (over-confident).

Setelah memahami konsep diri dan definisi percaya diri, maka hal selanjutnya yang perlu kita pahami bersama adalah mencari tahu penyebab mengapa kita merasa tidak percaya diri. Annalisa Barbieri, seorang kolumnis The Guardian, menceritakan contoh penyebab utama yang menjadikan dirinya mengalami rasa tidak percaya diri yang akut. 

“Saya tumbuh dalam keluarga disfungsional di mana saya diabaikan, dikritisi, dan tidak pernah diberi cinta atau kasih sayang. Sebagai seorang anak, saya terbiasa diam, tidak pernah meminta apapun. Sedangkan kakak saya diperlakukan secara berbeda. Masa lalu telah menghambat hidup saya.”

Dalam tulisan berjudul “How can I develop true self-confidence?” Annalisa mendeskripsikan bahwa trauma pengabaian kasih sayang keluarga membawanya kepada rasa tidak percaya diri yang cukup parah, bahkan hingga dewasa. Sekeras apapun berusaha, ia tetap merasa hampa dan tidak pernah merasa dirinya cukup. 

Beruntungnya, setelah melakukan konseling bersama terapis ahli, Dr Ged Smith, ia disarankan untuk melakukan terapi perilaku kognitif. Menurut Smith, dunia ini sejatinya dipenuhi oleh orang-orang dengan rasa percaya diri yang rendah. Oleh karenanya, setiap kita disarankan untuk berusaha berbicara secara positif kepada diri sendiri. Sang terapis menjelaskan bahwa pengaruh terapi perilaku kognitif dipercaya mampu meningkatkan rasa percaya diri seseorang. 

"Keyakinan negatif Anda tentang diri Anda perlu ditantang dan diganti dengan (sugesti) yang lebih positif. Anda perlu menantang suara-suara di kepala Anda yang menjadikan Anda merasa rendah diri. Semakin sering Anda mengganti suara-suara itu dengan hal yang lebih positif, maka semakin kuat pikiran positif yang tertanam." 

Smith juga menambahkan bahwa perasaan tidak dicintai yang tertanam di diri seseorang mungkin membutuhkan waktu untuk diatasi. Oleh karenanya, ia menyarankan orang-orang yang mengalami trauma serupa untuk mencari lingkungan positif yang menjadikan mereka merasa dicintai secara tulus. Mengingat kepercayaan diri dibangun dari hal-hal yang berulang-ulang, maka kelilingilah diri dengan lingkungan dan orang-orang yang suportif. Mintalah bantuan dan dukungan mereka jika dirasa perlu. Pada dasarnya, banyak orang yang suka menolong, karena melakukan kebaikan membuat mereka merasa lega dan bahagia.

Setelah memahami penyebab merasa tidak PD dan mengatasi permasalahan tersebut, maka tahap selanjutnya adalah membangun support system yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Berikut disajikan tiga solusi jitu dalam meningkatkan rasa percaya diri berdasarkan rekomendasi para ahli. 

1. Jaga Pola Makan dan Kesehatan Tubuh

Ketika kita memiliki fisik dan mental yang sehat, maka kita akan merasa bugar. Bentuk dan kondisi tubuh tersebut berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri seseorang. Oleh karenanya, mengonsumsi makanan sehat secara sadar menjadi hal yang penting untuk diketahui oleh orang-orang.

Pakar nutrisi tersertifikasi, Jo Withers, menyebutkan, “Ketika kita mengonsumsi makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, maka perasaan khawatir dan bersalah itu akan timbul. Hal tersebut akan berdampak negatif untuk kesehatan tubuh dan mental.” Oleh karenanya, makanan dan minuman mengandung kadar gula dan kafein yang tinggi sebaiknya dihindari.

Adapun jenis nutrisi dan makanan sehat rekomendasi para ahli yang mampu meningkatkan suasana hati menjadi lebih baik adalah sebagai berikut.

Karbohidrat dan Protein – biji-bijian, sayuran, buah-buahan, daging, ikan, keju, dan kacang.

Asam Lemak dan Omega 3 –salmon, tiram, kerang, kedelai, kenari, chia seeds, alpukat.

Vitamin D – telur, minyak ikan, yoghurt, hati sapi, jamur kancing, udang, susu, kaviar.

Vitamin B – bayam, brokoli, daging, pisang, jeruk, mangga, semangka, nanas, kedelai.

Selenium – oat, daging tanpa lemak, gandum, biji-bijian, keju cheddar, telur, seafood.

Selain pola konsumsi sehat, aktivitas fisik seperti olah raga yang teratur juga memengaruhi peningkatan rasa percaya diri dan kesehatan seseorang. Sebuah studi pada tahun 2016 menemukan bahwa aktivitas fisik yang menghasilkan kebugaran fisik dan citra tubuh yang baik memainkan peran penting terhadap rasa menghargai diri. Agar memiliki kualitas rasa percaya diri yang tahan lama, penting bagi kita untuk melakukan pendekatan holistik, artinya meninjau gaya hidup sehat secara menyeluruh. 

2. Self-Love dan Positive-Talk

Jim Kwik, pakar intelegensi dan otak, berpesan, “Self-love is not selfish”, mencintai diri bukanlah suatu keegoisan. Dalam proses membangun rasa percaya diri, setiap kita juga diharuskan belajar untuk mencintai diri. Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka mencintai diri adalah sebagai berikut.

Bersikap dan berbicara dengan baiklah pada diri sendiri

Profesor Williams menasihati, “Sayangi dirimu. Bersikap lembutlah pada diri saat ingin benar-benar mengkritisi. Pikirkan perkataan apa yang akan kamu utarakan kepada temanmu di situasi yang sama. Kita sering memberikan nasihat yang jauh lebih baik kepada orang lain dibandingkan ketika kita menasihati diri sendiri.”

Nasihat tersebut ternyata sejalan dengan hasil studi dari para peneliti asal Michigan State University dan the University of Michigan. Dalam the Nature Journal Scientific Reports 2017, para peneliti menyatakan bahwa positive-talk terhadap diri sendiri dapat dilakukan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Metode ini terbukti mampu mengurangi rasa malu dan bersalah serta menurunkan aktivitas emosi di dalam otak secara cepat dibandingkan menganalisa langsung perasaan dari sudut pandang diri sendiri (orang pertama).

“Saat merujuk pada orang ketiga, orang merasakan kemiripan dirinya dengan kondisi orang lain. Hal tersebut terbukti dari perubahan aktivitas otak. Cara tersebut membantu mereka mendapatkan sedikit ruang bagi pengalaman psikologis yang mereka rasakan.”

Selain itu, membentuk citra diri yang lebih positif juga bentuk lain dari mencintai diri. Semisal menampilkan postur tubuh yang lebih terbuka dengan menghindari postur membungkuk dan menunduk, melatih cara bicara dan mengatur volume suara, serta memakai pakaian yang nyaman. Menghargai diri merupakan kunci dari sikap percaya diri. 

3. Belajar untuk mengatakan ‘tidak’

Orang-orang yang masih memiliki harga diri yang rendah cenderung mengatakan iya kepada segala hal, walau sebenarnya mereka benar-benar tidak menyukai hal tersebut. Rasa tidak enakan dan khawatir tidak disukai menjadikan kebanyakan orang mengikis harga dirinya sendiri. Oleh karena itu, untuk mencintai diri mulailah dengan mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak disukai atau kepada aktivitas yang memberikan dampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental. 

4. Fokus

It’s not the daily increase but daily decrease. Hack away at the unessential,” kata seorang aktor laga paling fenomenal, Bruce Lee. Fokus pada pengembangan diri yang positif merupakan kunci penting dalam mencintai diri. Seseorang yang pintar menghargai diri akan mempraktikkan mindfulness, tindakan dan perkataan baik secara sadar demi kemajuan diri dan juga orang-orang di sekitarnya. Mereka adalah sosok yang bertumbuh dengan keunikannya sendiri tanpa membuang waktu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Mereka juga memfilter ide, informasi, ilmu, dan pergaulan yang diterima. Hal tersebut dilakukan demi menjaga kestabilan mental (mental hygiene), sehingga pikiran dan perasaan mereka tidak dibanjiri dengan hal-hal yang tidak bermanfaat yang dapat menyebabkan kecemasan (anxiety) dan rendahnya rasa percaya diri.  

5. Bangun Lingkungan Pertemanan yang Sehat

Lingkungan pertemanan memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh pada manusia, termasuk dalam membangun rasa percaya diri. Orang-orang dengan dukungan sosial yang kuat memiliki masalah kesehatan yang lebih rendah, termasuk menurunnya tingkat depresi, tekanan darah tinggi, dan berat badan. Penelitian bahkan menyebutkan bahwa hubungan sosial yang sehat cenderung menambah durasi hidup seseorang dibandingkan mereka dengan koneksi yang kurang bahkan cenderung kesepian. 

Namun, tidak semua orang yang dinamai teman memberikan efek positif demikian. Sebagiannya adalah pembohong, suka menghina dan berkhianat. Sebagian lagi membuahkan kemelaratan. Sebagian lainnya terlalu banyak memberikan nasihat-nasihat kosong. Para psikolog dan sosiolog kini meminta orang-orang untuk waspada terhadap jenis pertemanan negatif sedemikian rupa. 

Dr. Harriet Lerner, seorang psikolog dan penulis buku “The Dance of Connection” memaparkan. “Pertemanan itu kerap kali menyakitkan. Semakin lama mempertahankan pertemanan yang berisikan rasa cemburu, iri, amarah, dan ragam emosi negatif lainnya justru menjadikan mereka semakin besar kepala. Setiap orang harus memutuskan hal terbaik bagi diri mereka jika ingin membangun pertemanan jangka panjang. ‘Jika saya merasa hubungan tersebut buruk bagi kesehatan (fisik dan mental-red), maka saya akan berhenti.’.”

Dalam buku “When Friendship Hurts”, Dr. Jan Yager, seorang sosiolog di University of Connecticut Stamford menjelaskan bahwa pelecehan emosional mungkin kurang terlihat dibandingkan dengan pelecehan verbal, namun sebenarnya itu lebih berbahaya. Dr. Lerner turut mendukung pemikiran tersebut. “Idealnya, kehilangan persahabatan yang buruk harus membuat seseorang memiliki lebih banyak waktu dan penghargaan untuk yang baik. Anda akan menemukan betapa pentingnya mempertahankan pertemanan yang baik seumur hidup.”

Mayo Clinic Staff, melalui artikel berjudul Friendships: enrich your life and improve your health, menambahkan penjelasan terkait sisi positif dari pertemanan. Mayo memaparkan bahwa terdapat koneksi antara tingkat kesehatan dan lingkar pertemanan, oleh karena itu ia mengajak orang-orang untuk membangun pertemanan yang sehat. 

“Teman adalah orang yang ada di saat Anda merayakan masa-masa indah dan memberikan dukungan di waktu-waktu buruk. Teman mencegah rasa kesepian dan memberikan rasa aman dan nyaman saat Anda membutuhkan.”

Dia menjelaskan bahwa terdapat beberapa kriteria untuk mengukur suatu hubungan pertemanan itu positif atau tidak. Berikut dipaparkan standar pertemanan yang dianggap sehat oleh para ahli; meningkatkan keakraban dan tujuan, menambah rasa senang dan menurunkan kadar stres, meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri, membantu menyembuhkan trauma (seperti perceraian, penyakit akut, kehilangan pekerjaan, kematian orang-orang yang dikasihi), dan mendorong kita untuk meninggalkan gaya hidup yang tidak sehat.

Oleh sebab itu, dalam proses menumbuhkan dan meningkat rasa percaya diri, kita bisa bercermin kembali kepada dua nasihat bijak yang cukup populer. Pertama, you are what you eat, kamu adalah cerminan dari apa yang kamu makan. Kedua, you are what you surround yourself with, kamu adalah cerminan dari orang-orang yang mengitarimu. Maka bijaklah dalam menentukan hal yang terbaik untuk diri kita. []


Referensi:

Ackerman, E. (2019). What is Self-Confidence? + 9 Ways to Increase It. Diakses dari https://positivepsychology.com/self-confidence/

Barbieri, A. (2017). How can I Develop True Self-confident? Diakses dari https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2017/jun/09/how-can-i-develop-true-self-confidence

Bustamam-Ahmad, K. (2013). Wahdatul Wujud, Membedah Dunia Kamal. Bandar Publishing, Banda Aceh. 

Duenwald, M. (2002). Some Friends, Indeed, Do More Harm Than Good. Diakses dari https://www.nytimes.com/2002/09/10/health/some-friends-indeed-do-more-harm-than-good.html

Hamer. A. (2017). To Keep Emotions in Check, Talk to Yourself in Third Person. Diakses dari https://curiosity.com/topics/to-keep-emotions-in-check-talk-to-yourself-in-third-person-curiosity/

Leach, A. (2016). Not Feeling Confident? Here are Six Ways to Fake it. Diakses dari https://www.theguardian.com/education/2016/may/18/not-feeling-confident-here-are-six-ways-to-fake-it

Mayo Clinic Staff. (2019). Friendship: Enrich your Life and Improve your Health. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/friendships/art-20044860

NHS. (2017). Raising Low Self-esteem. Diakses dari https://www.nhs.uk/conditions/stress-anxiety-depression/raising-low-self-esteem/

Nutritionist-Resource. (t.b.). Confident and Self-esteem. Diakses dari https://www.nutritionist-resource.org.uk/articles/confidence.html

Sani, S.H.Z., et al. (2016). Physical activity and self-esteem: testing direct and indirect relationships associated with psychological and physical mechanisms. Diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5068479/

Sedghi, A. (2019). Seven Ways to Boost your Self-Esteem. Diakses dari https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2019/jan/21/seven-ways-to-boost-your-self-esteem

Thomas-Odia, I. (2019). Building Healthy Self-confidence in your Kids. Diakses dari https://guardian.ng/guardian-woman/building-healthy-self-confidence-in-your-kids/

Westmaas, R. (2018). The 7 Beliefs of Emotionally Healthy People. Diakses dari https://curiosity.com/topics/the-7-beliefs-of-emotionally-healthy-people-curiosity/


Tag: Psikologi

Comments: