Foto Foto oleh Rio Lecatompessy | Unsplash

Pendidikan yang Ramah terhadap Kesalahan

Ayu 'Ulya - Rabu, 15 Januari 2020

Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu. Namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.

(Andrea Hirata, Padang Bulan, 2011) 

***

Hari pertama perkuliahan merupakan momen paling penting bagi saya selaku seorang pendidik. Pasalnya, di momen itulah saya akan membangun komitmen belajar bersama para siswa atau pun mahasiswa. Saat pertama kali bertatap muka dengan peserta didik, tidak ada namanya proses menggurui sama sekali. Di saat itu saya hadir murni sebagai pendengar, dan terkadang merangkap sebagai diplomat silabus mata pelajaran/kuliah yang akan kami bongkar pasang sesuai kesepakatan. 

Di kali pertama perjumpaan saya dengan mereka, kami akan melakukan perkenalan singkat. Saking singkatnya, saya hanya meminta mereka menyebutkan nama panggilan saja, beserta kata sifat positif dari setiap huruf dari nama tersebut. Sebagai contoh.

 “Hai, semua. Saya Ayu. Anggun, Yakin, dan Unik. Terima kasih.”

Perkenalan singkat semacam itu, berdasarkan pengalaman, saya rasa cukup efektif. Di samping tidak bertele-tele, pengucapan nama panggilan yang singkat akan membangun keakraban di antara para peserta didik dan juga sang pendidik. Kemudian, pengucapan kata sifat yang dirangkai dari nama mereka akan mencairkan suasana kelas, membangun kreativitas peserta didik dalam bernalar, serta menghasilkan sugesti positif bagi diri peserta didik sejak hari pertama pertemuan. 

Selain itu, momen penting lainnya adalah melakukan jajak pendapat. Kami akan mendiskusikan beberapa hal mendasar terkait makna dan fungsi pendidikan. Sehingga, menjadi lazim bagi saya untuk mempertanyaan sebuah soalan penting ini setiap awal pertemuan.  

“Mengapa ya kita harus bersekolah?” atau “Mengapa kita memilih melanjutkan kuliah?”

Sebuah pertanyaan yang pada dasarnya tidak terlalu sulit, namun entah mengapa kerap menjadikan seisi kelas hening. Minimal fakta itu yang saya pribadi kerap dapati di setiap hari pertama pengajaran, di berbagai kelas dari beragam tingkatan lembaga pendidikan. Tepatnya, selama nyaris satu dekade menjalankan fungsi saya sebagai seorang pendidik di Provinsi Aceh.

Tak berhenti di situ, biasanya saya juga akan melanjutkan beberapa pertanyaan yang lebih spesifik. Sebagai contoh.

“Menurut Anda semua, apakah jurusan perkuliahan yang dipilih sudah tepat?”

“Kira-kira, apa pentingnya mempelajari pelajaran ini bagi kehidupan Anda kelak?”

“Andai pelajaran ini tidak diwajibkan, apakah Anda akan tetap mempelajarinya?”

Pascatanya, biasanya ekspresi wajah para peserta didik akan sedikit mengeras, pupil mata mereka bergetar lembut, dan bahkan ada yang menundukkan kepala. Perasaan khawatir, malu, dan bingung bercampur aduk menjadi satu. Kesemua hal itu tergambar jelas di raut wajah mereka. Seisi kelas seakan baru terbangun dari mimpi dan panik mendapati realita yang selama ini tak pernah mereka duga.  

Tentu reaksi yang sudah sangat familier ini saya tanggapi dengan santai. Di saat rasa tidak aman itu menguap hebat dari batin para peserta didik, saya akan menawari mereka opsi perlindungan. Saya akan segera menawarkan tiga peraturan utama. Tujuannya tentu untuk memecahkan keheningan kelas dan juga mengingatkan mereka bahwa segala hal akan baik-baik saja. Jika dilakukan reka adegan, maka isi pernyataannya saya akan seperti ini. 

“Baiklah. Di kelas saya, sebenarnya ada tiga peraturan penting yang harus kita ketahui bersama. Pertama, selama belajar bersama saya, Anda boleh salah. Kedua, di kelas saya, Anda semua tidak boleh tidak mencoba. Ketiga, selama pembelajaran, Anda diperbolehkan makan permen dan minum air, tak perlu izin, namun jangan bawa rantangan ya.”

Biasanya, suasana kelas yang semula lengang akan segera pecah oleh tawa. Selama bergelut di dunia pendidikan, saya menyadari bahwa sebagai pendidik selain harus rajin meng-update informasi dan ilmu pengetahuan terkini, kita juga harus intens melatih kesabaran diri dan juga belajar berempati terhadap para peserta didik. Selain itu, penuturan santai dan humoristis tentunya akan selalu membantu.

Kembali pada pembahasan peraturan awal di atas, “Selama belajar bersama saya, Anda boleh salah”. Peraturan ini pertama kali saya rancang setelah menyadari hasil evaluasi pembelajaran para peserta didik di tahun-tahun awal saya mengajar. Saya dapati bahwa ternyata terdapat kaitan antara rendahnya rasa percaya diri dan kecilnya minat peserta didik untuk mencoba dengan ketakutan untuk salah dan gagal. Artinya, diakui atau tidak, pendidikan kita selama ini tidak ramah terhadap kesalahan. Padahal salah satu metode belajar dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan adalah melalui kegagalan. 

Semua orang tahu bagaimana rasanya gagal, dan tentu tak ada orang yang benar-benar ingin kembali merasakan kegagalan yang sama. Namun menurut sebuah studi dari Ohio State University, berani menerima kegagalan sepenuh hati adalah strategi jitu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan memberikan diri kesempatan untuk sukses ke depannya. 

Serupa dengan catatan yang diutarakan oleh seorang periset psikologi Jon Jachimowicz di Huffington Post. Menurutnya, kegagalan adalah langkah penting untuk perbaikan diri. Jika kita membiarkan rasa takut menghentikan kita untuk mencoba dan melakukan kesalahan, maka kita hanya akan memperoleh porsi keberhasilan yang sedikit. 

Beruntung kini masyarakat dunia semakin sadar akan pentingnya menerima kesalahan dan melalui proses kegagalan. Korea Selatan, salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi, baru-baru ini mengadakan pergelaran dengan tema ‘Fail Expo’. Acara yang digelar pada akhir tahun 2019 ini mengajarkan masyarakat bahwa “Tidak apa-apa untuk melakukan kesalahan”. Pergelaran ini ingin mengubah cara pandang masyarakat dalam menyikapi kegagalan. Sehingga diharapakan dapat mengurangi tingginya angka bunuh diri dan melepaskan beban masyarakat dari perasaan bersalah dan tidak bahagia.

‘Fail Expo’ yang digelar di Korea Selatan tersebut terinspirasi dari Finland International Day for Failure yang dirayakan setiap tanggal 13 Oktober. Setiap tahunnya Finlandia, negara yang didaulat sebagai World Happiness Country Report 2019 itu, melakukan selebrasi kegagalan. Masyarakat diajak untuk membuang rasa malu dari perasaan gagal, baik bersifat pribadi maupun profesional. Sejak saat itu, bahasa yang digunakan oleh masyarakat Finlandia untuk membahasa kegagalan telah menjadi lebih positif. 

Menariknya, ternyata Swedia juga ikut dalam mempopulerkan perayaan kegagalan ini. Tersebutlah Museum of Failure, dipelopori oleh Dr. Samuel West, yang didesain untuk mengumpulkan produk dan layanan yang pernah gagal dari seluruh dunia. Proyek inovasi gagal dalam museum yang mengusung tema “Innovation Needs Failure” ini menampilakan ragam kegagalan untuk para pengunjung sebagai bentuk pengalaman belajar yang menarik. Setiap item memberikan wawasan unik tentang inovasi bisnis yang berisiko. 

Belajar dari ragam pemaparan di atas, pada dasarnya salah dan gagal bukanlah hal yang memalukan dan menakutkan, terutama dalam menjalani proses belajar. Oleh karenanya, pendidikan ramah salah bisa dijadikan patokan baru bagi seluruh pendidik dan peserta didik dalam menjalankan roda pendidikan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.[] 


Referensi: 

Alana Schetzer. (2015). International Day for Failure Encourages Celebrating Mistakes. Diakses dari https://www.theage.com.au/national/victoria/international-day-for-failure-encourages-celebrating-mistakes-20151012-gk6ztm.html

David Noonan. (2019). Failure Found to Be an “Essential Prerequisite” for Success. Diakses dari https://www.scientificamerican.com/article/failure-found-to-be-an-essential-prerequisite-for-success/

Jon Michael Jachimowicz. (2014). Using Failure As an Opportunity to Reflect Instead of Feeling Defeated: Let’s Strive to “Fail Better”. Diakses dari https://www.huffpost.com/entry/using-failure-as-an-oppor_b_5886938

Korea Bizwire. (2019). ‘Fail Expo’ Encourages Attendees to Try Again. Diakses dari http://koreabizwire.com/fail-expo-encourages-attendees-to-try-again/144476

Museum of Failure. Diakses dari https://museumoffailure.com/

The Ohio State University. (2017). Want to Rebound from Failure? Feel the Pain. Diakses dari https://news.osu.edu/want-to-rebound-from-failure-feel-the-pain/

World Economic Forum. (2019). It’s Fine to Fail [Video]. Diakses dari https://twitter.com/wef/status/1198224683713232896 


Tag: Pendidikan

Comments: