"If you plan for a year, plant a seed! If for ten years, plant a tree! If for a hundred years, teach! the people." (Kuan Chung)
Untuk memulai tulisan ini, saya berasumsi bahwa setiap pendidik pasti menghadapi masalah filosofis. Namun, banyak pendidik cenderung menangani masalah ini secara impulsif—mungkin saya juga salah satunya—bahkan seringkali mengabaikan opsi penyelesaian lain. Sebagai seorang pendidik, saya yakin bahwa filsafat intelektual memiliki dampak yang signifikan pada pengajaran dan pembelajaran.
Apakah komitmen profesional sebagai guru atau dosen praktis membuat kita lebih reflektif? Coba kita ingat-ingat lagi beban kerja sehari-hari sebagai guru di sekolah atau sebagai dosen di kampus. Apakah jumlah waktu yang dihabiskan untuk mengajar berbanding lurus dengan tingkat efektivitas pembelajaran di kelas? Pertanyaan-pertanyaan penting ini memotivasi saya untuk menulis esai reflektif ini—yang juga membuka ruang untuk pertanyaan penting lainnya. Karena pendidik yang baik tidak pernah berhenti belajar mengkritik diri. Tulisan ini akan lebih berfokus pada filsafat kritis, yang tugasnya adalah untuk mengungkap komponen penting dalam penilaian pendidikan, baik di tingkat dasar maupun universitas.
Orang-orang yang terlibat dalam mengatur "tujuan, standar, dan prioritas" di institusi pendidikan akan segera menyadari bahwa masyarakat modern saat ini memiliki banyak pilihan "tujuan, standar, dan prioritas" yang tersedia di depan mata mereka. Banyak keputusan sulit harus dibuat meskipun di antara pilihan tersebut ada yang tidak sesuai, dan ada yang berseberangan antara satu sama lain. Sebagai contoh, para pendidik sering menghadapi sejumlah masalah. Yang pertama adalah: Bagaimana memenuhi kebutuhan individu siswa sambil tetap adil bagi seluruh peserta didik? Haruskah seorang pendidik memprioritaskan moral daripada kemampuan akademik? Apa artinya filsafat kritis?
John Passmore, salah satu filsuf kontemporer, menyebutkan tiga gagasan umum tentang filsafat: filsafat sebagai kebijaksanaan; filsafat sebagai ideologi; dan filsafat sebagai pertanyaan kritis (Passmore, 1980). Passmore berpendapat bahwa perbedaan dalam falsafah ini akan membantu pendidik mengidentifikasi tradisi yang berbeda dalam kultur sekolah.
Ketiga konsep filsafat tersebut merupakan gabungan dari ide-ide penting yang disampaikan oleh filsuf terkenal seperti Aristoteles, Thomas Aquinas, dan Immanuel Kant. Mereka menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam pendidikan dan pengelolaan sekolah yang baik. Ideologi dan kebijaksanaan ini harus ditanamkan dalam diri pendidik agar mereka dapat mempertimbangkan dan mengevaluasi diri sendiri, serta memahami bahwa kebenaran itu tidak selalu absolut. Setelah setiap pelajaran, penting untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di kelas dan bagaimana interaksi edukatif yang bernilai normatif seharusnya terjadi. Ini akan menjadi "pemicu" atau sumber keteraturan untuk pembelajaran berikutnya.
Filsafat sebagai Kebijaksanaan (Wisdom)
Kebijaksanaan adalah reaksi intuitif yang tertanam dalam cara berpikir kita saat menanggapi pernyataan atau pertanyaan tentang suatu masalah. Seringkali, kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain dan meminta mereka untuk memberikan pembenaran. Misalnya, kita menyadari bahwa peserta didik dipaksa untuk mempelajari dan memahami sepuluh atau lebih mata pelajaran setiap semester. Ini menunjukkan kurangnya kebijaksanaan seorang pendidik.
Filsafat sebagai Ideologi (Ideology)
Ideologi ialah dasar pendapat yang lebih sistematis daripada kebijaksanaan. Ideologi pada dasarnya memberikan sebuah landasan berpikir untuk pilihan yang lebih luas, seperti membangun dan mengawasi institusi. Semangat pembelajaran menghidupkan peradaban manusia menjadi landasan aksiologisnya.
Filsafat sebagai Penyelidikan Kritis (Critical Inquiry)
Ciri khas penyelidikan kritis dalam filsafat adalah fokusnya pada pertanyaan yang cermat dan evaluasi sistematis, tanpa memperhatikan sumber pendapat yang diperiksa. Tidak peduli siapa yang menulis atau mengatakan sesuatu, atau seberapa penting penyelidikan tersebut dalam mempengaruhi kebijakan institusi. Penyelidikan ini tidak bertujuan untuk merendahkan atau menghormati individu. Tidak pula untuk mendukung atau menghancurkan institusi. Ia hadir untuk menemukan kebenaran. Yang terpenting, dalam filsafat sebagai penyelidikan kritis, keyakinan apa pun yang dianggap benar dapat ditantang.
Studi kritis filosofis menganggap pengetahuan sebagai pilihan. Dalam dunia nyata, pendidik dapat menerima informasi sebagai kebenaran, tetapi ia dapat pula berubah pikiran ketika menemukan bukti baru. Perhatikan betapa berbedanya ini dengan ide-ide filsafat yang dianggap sebagai ideologi atau kebijaksanaan yang menunjukkan kebenaran absolut.
Mereka yang menawarkan kemutlakan kepada kita sering kali bersikeras bahwa pada titik tertentu penyelidikan harus dihentikan dan pertanyaan tidak lagi diperbolehkan. Sebaliknya, penyelidikan kritis selalu—atau setidaknya dalam teori—memungkinkan pertanyaan untuk terus berlanjut. Selain menjadi landasan berpikir, filosofi kritis sangat penting untuk revolusi pendidikan dan kemajuan pendidikan generasi mendatang []
Referensi:
Passmore, J. (1980). The philosophy of teaching. Duckworth.
*Fadhlur Rahman adalah dosen di Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Indonesia.
Fadhlur Rahman
Muhammad
Sikula
Ayu