Ariga (bukan nama sebenarnya) baru saja duduk di kursi yang agak reyot ketika ia menawarkan sofa yang lebih nyaman kepada saya, tamu yang baru ia kenal. Padahal, kursi itulah satu-satunya kenyamanan yang ia punya di ruang pertemuan kecil itu. Tapi begitulah kebaikan hati anak ini, pikir saya saat itu. Sekalipun dalam keadaan terbatas, mereka tetap mengutamakan tamu.
Usianya 16 tahun. Sudah enam bulan ia tinggal di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), sebuah lembaga pemasyarakatan khusus untuk anak yang berhadapan dengan hukum. "Saya sudah di sini sekitar enam bulan," katanya pelan, namun terdengar berat.
Saya menemui Ariga sebagai bagian dari riset doktoral saya tentang pengalaman pendidikan anak-anak di LPKA Aceh. Bersama dua anak lain, Ade dan Eko, kisah mereka membuka mata saya tentang sesuatu yang sering luput dari perhatian: di balik vonis dan jeruji, anak-anak ini masih punya mimpi dan mereka semua sedang mencari jalan untuk terus memeliharanya.
Mimpi yang sempat padam
Sebelum masuk LPKA, Ariga bersekolah di SMK jurusan kuliner di Takengon, kampung halamannya yang terkenal dengan kopi Arabika. Ia bercita-cita jadi koki. Gurunya sering mengajaknya ikut lomba memasak di luar sekolah. "Saya belajar bahwa manis itu tidak selalu datang dari gula," katanya mengenang salah satu pelajaran yang paling berkesan baginya.
Semua berubah ketika hubungannya dengan sang pacar diketahui keluarga sang gadis, lalu dilaporkan ke polisi. Kedua keluarga tak menemukan jalan tengah. Ariga akhirnya divonis 50 bulan penjara atas tuduhan kekerasan seksual, sebuah konsekuensi berat dari sebuah hubungan remaja yang berujung tragis.
Di LPKA, mimpi kulinernya seperti terhenti. Pelajaran yang tersedia justru jauh dari minatnya. Misalnya, pertukangan, bukan memasak. Meski di awal ia sudah mengikuti asesmen minat dan bakat. "Saya bahkan sudah lupa resep nasi goreng," candanya getir, menyembunyikan kepedihan di baliknya.
Namun harapan itu tak benar-benar padam. Seorang petugas pembina perempuan, Jannah (bukan nama sebenarnya), terus meyakinkan Ariga akan potensinya. Ia mendorong Ariga belajar bahasa Inggris, bekal yang menurutnya akan berguna di dunia kuliner internasional kelak. Perlahan, mimpi Ariga bergeser: dari koki menjadi seseorang yang mahir berbahasa Inggris. "Tolong dengarkan aspirasi kami," ujarnya menjelang akhir wawancara kami. Kalimat yang terus terngiang di benak saya.
Dari kecanduan gawai menuju kepercayaan diri
Ade (bukan nama sebenarnya), 16 tahun, berasal dari keluarga petani kopi dan tebu di Aceh Tengah dengan kondisi ekonomi yang cukup mapan. Tapi sebelum masuk LPKA, ia jarang ke sekolah. "Dalam seminggu saya cuma masuk empat sampai lima kali. Sering kesiangan," akunya. Waktunya lebih banyak dihabiskan bermain gim di ponsel bersama teman-teman. Sesuatu yang ia sebut sendiri sebagai "kecanduan."
Di LPKA, sesuatu berubah. Pola tidur dan makannya membaik. Ia mulai serius mengikuti program belajar setara SMP. "Di sini, semua petugas mengajari kami, Pak. Yang tidak bisa mengaji, diajari mengaji. Yang tidak bisa membaca, diajari membaca. Sedikit demi sedikit, semua itu terbangun," ujarnya.
Momen yang paling membekas baginya adalah saat kegiatan pramuka, ketika ia dan teman-temannya sesama penghuni LPKA justru menjadi pengajar keterampilan luar ruang bagi peserta dari sekolah-sekolah lain. Ia bercerita sambil tersenyum bangga, sesuatu yang jarang terjadi semasa sekolah dulu. Kini, cita-citanya berubah: ia ingin menjadi anggota TNI atau polisi.
Menemukan kembali iman yang lama hilang
Eko (bukan nama sebenarnya), juga 16 tahun, tumbuh di Langsa. Ibunya seorang guru, tapi Eko sendiri merasa sekolah itu membosankan. Ia putus sekolah di usia 15 tahun, bekerja di tempat cuci motor, lalu lewat pergaulan, mengenal narkoba. Ia divonis delapan bulan atas kasus perampokan yang terkait penyalahgunaan zat.
Di LPKA, kehidupan keagamaannya berubah drastis. "Dulu di luar saya jarang sholat. Sekarang saya sholat rutin," katanya. Rutinitas hariannya kini dipenuhi sholat dhuha, mengaji, dan kajian keislaman mingguan. Ia juga, untuk pertama kalinya, aktif di kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka dan tari tradisional. Hal yang tak pernah ia lakukan di sekolah lamanya.
Rencana masa depannya kini condong ke jalur keagamaan: ia ingin melanjutkan pendidikan di dayah, pesantren tradisional Aceh, dan bercita-cita menjadi ustaz. Bukan kembali ke sekolah umum seperti yang disarankan pihak LPKA.
Tiga jalan, satu pesan
Ariga, Ade, dan Eko menempuh jalan yang sangat berbeda: kuliner yang bergeser ke bahasa, gawai yang bergeser ke disiplin belajar, dan kehidupan jalanan yang bergeser ke spiritualitas. Namun ada satu benang merah dari ketiganya: perubahan itu terjadi bukan semata karena aturan ketat LPKA, melainkan karena ada orang dewasa yang mau mendengarkan dan percaya pada potensi mereka.
Riset ini mengingatkan kita bahwa pendidikan bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum bukan sekadar soal kurikulum atau jadwal pelajaran. Ia soal memberi ruang bagi anak untuk tetap bermimpi, sekalipun jalannya harus berbelok dan penuh tantangan []
***Artikel ini disarikan dari dua naskah jurnal berikut:
Haekal, M., Sanjakdar, F., Creely, E., & Carabott, K. (2025). Educational experiences of incarcerated youth: A narrative inquiry with a young Indonesian Muslim. Issues in Educational Research, 35(4), 1549–1567. https://research.monash.edu/en/publications/educational-experiences-of-incarcerated-youth-a-narrative-inquiry/
Haekal, M., Creely, E., Carabott, K., & Sanjakdar, F. (2026). Narratives of Incarcerated Indonesian Young People: Educational and Social Perspectives. Journal of Applied Youth Studies. https://doi.org/10.1007/s43151-026-00222-4
Muhammad Haekal
Sikula
Ayu